Menakar Kans Khofifah di Pilkada Jatim

Ilham wibowo    •    Kamis, 12 Oct 2017 18:40 WIB
pilgub jatim 2018
Menakar Kans Khofifah di Pilkada Jatim
Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menerima kedatangan bakal Calon Gubernur Khofifah Indar Parawansa (kiri) di DPP Partai NasDem, Jakarta. Foto: MI/Ramdani.

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dinilai perlu bekerja keras untuk bertarung di pemilihan gubernur Jawa Timur 2018. Pasalnya, dia akan kembali bertemu dengan sesama tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego mencatat, Khofifah sudah dua kali kalah saat berhadapan dengan Gus Ipul. Pada pilgub 2008, Khofifah berpasangan dengan Brigjen TNI Mudjiono. Sementara itu, pada 2013, ia berpasangan dengan mantan Kapolda Jatim Herman Sumawiredja.

Indria menuturkan, Gus Ipul yang didukungan simpatisan NU berkontribusi besar dalam perolehan suara pasangannya, Gubernur Jatim Soekarwo. Warga NU, kata Indria, secara pengalaman cederung memilih pemimpin bedasarkan gender.

"Pertama, konservatifnya lebih memilih laki-laki ketimbang perempuan. Kedua, Saifullah incumbent yang sudah punya pengalaman, pendukungnya bukan hanya NU tapi NU plus," kata Indria saat dihubungi Metrotvnews.com, Kamis 12 Oktober 2017.

Meski demikian, Khofifah masih memiliki kans seimbang bila dihadapkan kembali melawan Gus Ipul. Menurut Indria, Khofifah memiliki tingkat popularitas yang menanjak semenjak menjabat sebagai mensos. Itu menjadi nilai tambah tersendiri.

"Bukan tidak mungkin Saifullah dikalahkan. Kalau pemilih mengetahui kelemahan Saifullah, mungkin itulah keunggulan Khofifah," ujar di.

Untung-Rugi Khofifah

Langkah Khofifah maju di pilkada Jatim hanya tinggal menungu restu Presiden Joko Widodo. Dua partai politik, yakni NasDem dan Golkar, sudah lebih dahulu mendeklarasikan dukungan resmi. Khofifah kini hanya menanti kepastian dari Partai Hanura, Partai Demokrat dan PPP.

Baca: Pengamat: Elektabilitas Khofifah Bakal Naik, Jika Didampingi Tokoh Lokal

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio mengatakan, kegagalan Khofifah dalam pilkada sebelumnya membawa pengaruh positif dan negatif. Selain mendapat dukungan dari pemilih loyalis, citra penasaran dan nafsu kekuasaan akan menempel pada Khofifah.

Namun, Hendri menambahkan, hasil pilkada Jatim secara tidak langsung akan berpengaruh pada elektabilitas Presiden Jokowi. Pasalnya, Khofifah mencalonkan diri di pilkada Jatim saat aktif menjabat sebagai mensos.

"Khofifah mengundurkan diri (dari jabatan mensos), kalau diizinkan oleh Jokowi kemudian citranya seolah-olah utusan Presiden," ujar dia.




(OGI)