Ganjar Memaafkan Pemfitnah Dirinya

Budi Arista Romadhoni    •    Senin, 09 Apr 2018 19:43 WIB
pilkada 2018pilgub jateng 2018
Ganjar Memaafkan Pemfitnah Dirinya
Pasangan calon gubernur (Cagub) dan calon wakil gubernur (Cawagub) Jawa Tengah Ganjar Pranowo bersama Taj Yasin . (MI/Haryanto)

Semarang: Calon gubernur Jateng nomor urut 1, Ganjar Pranowo, memaafkan orang yang memfitnah dirinya. Menurutnya, persoalan sudah selesai karena pihak yang menuding dirinya sudah mengakui kesalahan. 

"Yang bersangkutan mengakui kedunguan dan meminta maaf. Karena sudah minta maaf komunikasi dengan saya, ya saya maafkan," kata Ganjar di Semarang, Senin 9 April 2018. 

Seperti diketahui Ganjar dituding menista agama karena membacakan puisi KH Musthofa Bisri (Gus Mus) berjudul 'Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana?' 

Tudingan mencuat melalui postingan Host salah satu program acara TV One Damai Indonesiaku Muhammad Agung Izzulhaq. 

Dalam akun Twitternya @agungizzulhaq menyebut, puisi yang dibacakan Ganjar menghina Islam dan penciptanya adalah orang dungu. 

Belakangan Agung Tampak menyesali cuitanya setelah tahu bahwa pencipta puisi tersebut adalah Gus Mus. Agung pun meminta maaf kepada Gus Mus dan Ganjar. 

"Karena saya tidak ada yang seperti diomongkan mereka. Ya saya anggap sudah selesai," tambahnya. 

Menghadapi tudingan tak berdasar seperti itu, Ganjar mengaku hanya tersenyum. Toh, kata Ganjar, pemfitnah sudah meminta maaf.

 "Dia ngakuin kok," ujar Ganjar.

Ganjar meminta masyarakat Jateng tetap menjaga kerukunan dan tidak terprovokasi isu SARA. Dia mengatakan, tidak mungkin melecehkan agama.

"Bagaimana saya berpasangan dengan gus putra kyai masak kita melecehkan. Kita saja berbicara membangun Jawa Tengah material spriritual jadikan satu," katanya. 

Dia meminta agar masyarakat mengedepankan tabayun ketika mendapati isu di media sosial. 

"Cara berfikirnya jangan sampai digeser ke kepentingan kelompok dan dikapitalisasi seolah-olah ini gaya gaya penistaan, enggak," tegasnya.

Seperti diketahui puisi tersebut dibuat Gus Mus pada tahun 1987.  Gus Mus sendiri dan sejumlah tokoh seperti Mantan Menteri Desa dari PKB Marwan Jafar pernah membacakan puisi yang dimaksudkan mengkritik kondisi sosial politik masa orde baru itu.


(LDS)