Golkar Sumut Pertimbangkan Pecat Syamsul Arifin

Farida Noris    •    Senin, 05 Mar 2018 03:20 WIB
pilgub sumut 2018
Golkar Sumut Pertimbangkan Pecat Syamsul Arifin
Syamsul Arifin (kanan), Gubernur Sumatera Utara periode 2008-2010, Foto: MI/Mohamad Irfan

Medan: Sikap Ketua Dewan Pakar Golkar Sumut, Syamsul Arifin yang terang-terangan mendukung Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus pada Pilgub Sumut 2018 dianggap menyalahi aturan partai. Syamsul kerap mengikuti kegiatan-kegiatan pasangan Djarot-Sihar dalam Pilgub Sumut. 

"Sikap Pak Syamsul sudah kelewatan. Padahal kita tahu Partai Golkar mengusung pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah pada Pilgub Sumut nanti," kata Korbid Pemenangan Pemilu Partai Golkar Sumut, Sahlul Umur Situmeang, Minggu, 4 Maret 2018 di Medan.

Sahlul menegaskan sesuai SE/Golkar/II/2018 tanggal 9 Februari 2018, Partai Golkar menginstruksikan seluruh pengurus Golkar di semua tingkatkan, kader Golkar kepala daerah sampai anggota fraksi Golkar se-Sumut untuk memenangkan pasangan Edy Rahmayadi-Musa Rajekshah.

"Instruksi DPP Partai Golkar sudah tegas dalam hal pemenangan Pilkada. Ketika ada yang mengangkangi instruksi tersebut, sudah selayaknya kader dipecat dalam kepengurusan partai," terangnya.

Menurutnya, jika Syamsul Arifin tidak mengindahkan dua kali peringatan nantinya, maka Sahlul merekomendasikan kepada DPP Partai Golkar untuk mencabut kartu keanggotaan Syamsul Arifin. 

"Jika Syamsul Arifin membelot dari instruksi itu, maka pecat saja dari Ketua Dewan Pakar Golkar Sumut. Golkar Sumut harus tegas soal yang begini. Kader yang membelot ini akan merusak citra Partai Golkar," kata Mantan Ketua DPRD Sibolga tersebut.

Sahlul menyebut, kader dan pengurus Golkar se-Sumut boleh saja berbeda pendapat jika belum ada keputusan DPP Golkar soal Pilgub Sumut.

"Tapi saat ini kan DPP Golkar sudah ada sikap dan diputuskan bahwa Golkar mendukung dan berkomitmen memenangkan Eramas di Pilgub Sumut," tegas Sahlul.

Apa yang sudah direncanakan pasangan Eramas dalam visi-misinya, sambung Sahlul, merupakan formulasi yang sudah tepat dalam membawa Sumut bermartabat.

"Soal infrastruktur, lapangan kerja, pendidikan, kesehatan hingga UMKM adalah sebagian dari fokus Eramas. Persoalan itu tak bisa dibawa melucu-lucu seperti yang selama ini dipertontonkan Syamsul Arifin," imbuh Sahlul.

Sahlul menegaskan, pernyataannya tersebut merupakan tanggungjawab Sahlul sebagai Korbid Pemenangan Pemilu Partai Golkar Sumut.

"Saya punya tanggungjawab memenangkan Pilkada di Sumut yang diusung Partai Golkar. Saya mengimbau pengurus dan kader Golkar Sumut di semua tingkatan untuk menjalankan instruksi DPP Partai Golkar. Jika tidak, maka akan ada catatan bagi mereka-mereka yang membelot," pungkas Sahlul.

Bagi kepala daerah dan anggota Fraksi Golkar se-Sumut yang tidak bekerja memenangkan Eramas, kata Sahlul, maka akan ada catatan pada Pemilu dan Pileg 2019 nanti.

Baca: Rumah Baru Djarot Pernah Ditempati Syamsul Arifin

"Bisa saja pada Pileg 2019 nanti tidak ditetapkan jadi Caleg dari Partai Golkar apabila tidak bekerja untuk kebesaran partai," tukasnya.

Sebelumnya, Syamsul Arifin tampak menghadiri acara syukuran yang diadakan Djarot saat pindah ke rumah kontrakannya di Jalan Kartini, Nomor 6 Medan, Kamis, 1 Maret 2018. Prosesi syukuran memasuki rumah baru pun dilakukan bersama para pendukung dan kader DPI Perjuangan serta PPP.

Djarot mengundang Kepala Lingkungan untuk berkenalan secara langsung. Ritual memasuki rumah baru dilanjutkan dengan memotong nasi tumpeng untuk dibagikan kepada para tokoh yang hadir termasuk tokoh masyarakat Sumut, Syamsul Arifin.

Rumah yang kini didiami Djarot pernah dijadikan rumah pemenangan bagi pasangan Syamsul Arifin - Gatot Pujonugroho pada Pilgub Sumut tahun 2009 lalu. Djarot berharap dengan menempati rumah kontrakan yang berada di Kota Medan, ia dan Sihar Sitorus bisa lebih mudah dalam melaksanakan masa kampanye dan menarik dukungan warga Sumatera Utara.

Syamsul Arifin mengaku sempat kaget mengetahui Djarot tinggal di Kota Medan, dan memilih rumah yang beralamat di Jalan Kartini nomor 6 itu. Pasalnya rumah itu dahulunya menjadi saksi hidup Syamsul yang sempat terpilih sebagai Gubernur Sumut.

"Di rumah itu lah dulunya saya diberangkatkan menjadi gubernur dan menang pada Pilkada sebelumnya. Jadi ada yang berulang, yang dulu terulang lagi sekarang, yang sekarang akan terulang nanti. Saya berharap kemenangan yang dulu pernah saya raih saat tinggal di rumah itu, dan sekarang ditempati Djarot, dapat terjadi lagi," kata Syamsul saat itu.


(DMR)