Dua Cagub Jatim Adu Jurus Buruh Migran

Amaluddin    •    Selasa, 10 Apr 2018 21:49 WIB
pilkada serentakpilkada 2018pilgub jatim 2018
Dua Cagub Jatim Adu Jurus Buruh Migran
Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur nomor urut satu Khofifah Indar Parawansa (kiri)-Emil Dardak (kedua kiri) dan nomor urut dua Saifullah Yusuf (kedua kanan)-Puti Guntur Soekarno (kanan) mengikuti debat publik I Pilgub Jatim. Foto: Antar

Surabaya: Debat perdana Pilgub Jawa Timur 2018 berlangsung sengit. Dua kandidat calon gubernur (cagub), Saifullah Yusuf dan Khofifah Indar Parawansa, adu jurus menghadapi masalah atau buruh migram.

Cagub nomor urut 2, Gus Ipul, menyoroti soal tenaga kerja migran, baik mulai dari persiapan, sudah bekerja, dan pasca bekerja. Karena itu, pihaknya akan fokus pada program pelatihan dan sertifikasi bagi warga Jatim.

Tak hanya itu, calon buruh migran juga harus bekerja sesuai dengan prosedur, memenuhi syarat yang diharuskan. Selain itu juga harus memiliki sertifikasi berstandar internasional.

"Kita punya kewajiban besar untuk menyiapkan. Karena itu kita perlu memperkuat SMK-SMK kita, BLK-BLK kita," kata Gus Ipul, dalam debat yang digelar di Gedung Dyandra Convention Center, Surabaya, Selasa, 10 April 2018.

Khofifah mengatakan wirausaha menjadi salah satu cara untuk mengurangi warga berangkat kerja ke luar negeri. Selain itu, Khofifah juga menyoroti soal layanan terpadu satu pintu dalam masalah buruh migran ini.

"Problem ketenagakerjaan kita variatif. Mereka yang unskilled labor mengambil pilihan jadi TKW atau TKI," ujar Cagub Khofifah.

Kemudian Emil Dardak menambahkan, bahwa warga Jatim yang memilih untuk bekerja ke luar negeri bisa diberi pelatihan oleh pemerintah. Dengan begitu mereka bisa bekerja di kampung halaman sendiri, tanpa meninggalkan keluarga.

"Wirausaha salah satu cara mendorong agar mereka tak berangkat ke luar negeri," kata Emil.

Pernyataan Emil kemudian ditanggapi oleh pasangan Gus Ipul, Puti Guntur Soekarno. Menurut Puti, anak-anak dari para buruh migran juga harus didampingi oleh pemerintah, yang bekerja sama dengan LSM.

"Pasca atau purna TKI, perlu ada fasilitasi. Perlu disiapkan agar bisa bekerja lewat UMKM. Kita punya program Superstar, agar mereka mampu mengembangkan kreativitasnya," kata Puti.


(SUR)