Special Event

Hasil Quick Count Jangan Sampai Menimbulkan Friksi

   •    Rabu, 19 Apr 2017 13:54 WIB
pilgub dki 2017
Hasil <i>Quick Count</i> Jangan Sampai Menimbulkan Friksi
Ilustrasi penghitungan suara. (ANTARA?Asep Fathulrahman)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat politik Philips J Vermonte menyebut metode survei dengan hitung cepat atau quick count usai pemilihan suara merupakan dua hal yang berbeda. Dalam survei, antarlembaga survei memungkinkan ada selisih dan perbedaan hasil yang signifikan, tetapi tidak demikian dengan quick count. 

Philips mentgatakan hitung cepat datang data dari hasil rekapitulasi di TPS yang diambil sebagai sampel dengan hasil riil. Sementara survei biasanya melibatkan persepsi masyarakat. Alasan itulah yang kemudian memunculkan selisih hasil yang berbeda antara lembaga survei.

"Tapi kalau quick count, seharusnya tidak terjadi perbedaan hasil. Karena metodologinya nyaris sama. Kalau diikuti metodologinya, selisihnya harusnya kurang dari satu persen," ujar Philips, dalam Special Event, Rabu 19 April 2017.

Dalam sejarahnya, kata Philips, perbedaan hasil hitung cepat pernah terjadi pada pilpres 2014. Lembaga yang ikut serta dalam quick count saling mengklaim kemenangan, padahal seharusnya hasil quick count antarlembaga tidak akan berbeda jauh sebab metodologi hitungan yang digunakan nyaris sama. 

Agar tidak menimbulkan kegaduhan akibat selisih suara hasil quick count, Philips meminta lembaga yang terlibat dalam hitung cepat harus bertanggung jawab terhadap hasil hitungan. Jangan sampai hasil hitung cepat malah diolah dan dipermainkan dan tidak menggambarkan hasil yang sebenarnya. 

"Kalau tidak bertanggung jawab, terjadi hasil yang tidak mencerminkan yang sesungguhnya bisa menimbulkan friksi. Karena masyarakat sudah menaruh kepercayaan kepada mereka," kata Philips.




(MEL)