Khofifah-Emil Tekan Jumlah TKI dengan Wirausaha

Dheri Agriesta    •    Selasa, 10 Apr 2018 21:42 WIB
pilkada 2018
Khofifah-Emil Tekan Jumlah TKI dengan Wirausaha
Pasangan calon Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Wakil Gubernur Emil Elistianto Dardak. ANT/Zabur Karuru.

Surabaya: Jawa Timur merupakan salah satu daerah penyumbang buruh migran terbesar di Indonesia. Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Emil Elestianto Dardak ingin menekan jumlah itu.

Salah satu cara yang dilakukan dengan mengedepankan konsep wirausaha. Karena, faktor ekonomi menjadi alasan utama seseorang menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI).

"Wirausaha juga satu program yang didorong supaya mereka tidak berangkat ke luar negeri," kata Emil dalam debat Pilkada Jawa Timur di Dyandra Convention Hall, Surabaya, Selasa, 10 April 2018.

Emil mengaku bertemu dengan sejumlah TKI yang berasal dari Jawa Timur. Sebagian besar di antara mereka meninggalkan keluarga di kampung halaman.

"Tapi karena himpitan ekonomi, (mereka) berangkat," kata dia.

Sementara itu, Khofifah melihat minimnya skill yang dimiliki tenaga kerja menjadi alasan utama tingginya angka buruh migran dari Jawa Timur. Padahal, sejumlah sentra industri di Jawa Timur mengeluh minimnya tenaga kerja.

"Saya jalan ke Nganjuk ada sentral industri kok yang established dari 1963 mereka kekurangan tenaga kerja, saya datang ke Ngawi ada sentra seni kerajinan kayu, mereka kekurangan tenaga kerja," kata Khofifah.

Khofifah mengatakan, masalah tenaga kerja di Jawa Timur sangat variatif. Saat ini, ada 21 persen masyarakat Jawa Timur berumur di atas 15 tahun tak lulus sekolah dasar. Sedangkan, sekitar 30 persen masyarakat Jawa Timur hanya lulus sekolah dasar.

"Mereka kategori unskill labour, ada yang mengambil pilihan jadi TKI dan TKW," kata Khofifah.

Khofifah sadar, butuh perlakuan khusus menangani tenaga kerja yang tak memiliki skill ini. Selain penguatan pendidikan formal, Khofifah juga akan memberikan pelatihan kepada mereka.

Selain itu, Khofifah juga melihat peluang pengembangan usaha pertanian di Jawa Timur. Peluang ini merujuk kepada kekurangan pakan yang dialami peternak di Jawa Timur.

"Mereka kekurangan jagung, jadi apa? Kalau anak muda mau bercocok tanam, pangsa pasarnya juga luar biasa," kata Khofifah.


(DRI)