Minim Kontestan Perempuan di Pilgub Jatim

Amaluddin    •    Rabu, 12 Jul 2017 19:30 WIB
pilgub jatim 2018
Minim Kontestan Perempuan di Pilgub Jatim
Rilis survei kontestasi Pilgub Jatim oleh Surabaya Survey Center di Surabaya, Rabu, 12 Juli 2017. (Metrotvnews.com/Amaluddin)

Metrotvnews.com, Surabaya: Kontestasi Pilgub Jatim 2018 tampaknya minim kandidat perempuan. Ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan Surabaya Survey Center (SSC).

Menurut Direktur SSC, Mochtar W. Oetomo, dari 24 nama yang muncul dalam survei SSC, hanya ada tiga perempuan yang beredar dalam bursa. Mereka adalah Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa; Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini; dan Waketum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf.

Baca: Gus Ipul Top Of Mind Cagub Jatim

Dalam simulasi 24 kandidat itu, lanjut Mochtar, Tri Rismaharini mendapatkan dukungan publik paling tinggi yakni mencapai 24,1 persen. Sementara Khofifah dan Nurhayati masing-masing 16,8 persen dan 0,40 persen.

Hasil itu dianggap cukup menarik. Utamanya jarak antara Nurhayati dengan dua nama lainnya. Bahkan, ketika nama Nurhayati dipertarungkan di bursa cawagub elektabilitasnya pun tidak kompetitif.

"Nurhayati Ali Assegaf ketika dipertarungkan di bursa cawagub memperoleh 5,5 persen dukungan publik dan menempatkannya di posisi tujuh dari 24 kandidat cawagub lainnya," kata Mochtar, saat jumpa pers di salah satu hotel di Jalan Jemursari, Surabaya, Selasa, 12 Juli 2017.

Baca: Elektabilitas Abdullah Azwar Anas di Cawagub Jatim Tertinggi

Survei dilakukan dengan metode penarikan samapel bertingkat (multistage random sampling) pada 10-30 Juni 2017. Melibatkan 800 responden dengan margin of error 3,5 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Mochtar menambahkan, minimnya kandidat perempuan dalam bursa Pilgub Jatim layak mendapat perhatian di tengah upaya serius memberi ruang bagi perempuan dalam berbagai kontestasi politik. Padahal, jumlah pemilih perempuan lebih banyak ketimbang laki-laki.

"Dari waktu ke waktu dan dari berbagai gelaran pemilukada secara kuantitatif suara perempuan selalu lebih banyak dibanding suara laki-laki. Mestinya ini bisa menjadi momentum strategis bagi setiap kandidat perempuan,” kata Mochtar.


(SAN)